Mar 04 2008
KEJUJURAN, KOMODITI MASYARAKAT MODERN
Published on Pelita, Monday, 24 Mei 2004, hal.7)
Kejujuran rupanya barang langka di dalam masyarakat modern yang serba cepat, formal dan birokrastis ini. Karenanya ‘kejujuran’ menjadi komoditi yang bisa laris dijual. Sedikitnya hal itu dibuktikan Hiroyuki Nishimura, 27 tahun.
“Saya menjual kejujuran dan kesempatan agar orang-orang bisa mengekspresikan dirinya menjadi apa adanya. Just the way we are, Just The way You Are, jadi diri saya sendiri, jadi kamu sendiri” ujar Nishimura yang menamatkan sekolahnya di Central Arkansa University. Sambil kuliah ia juga mengambil kursus psikologi. Tetapi lelaki muda ini semenjak mahasiswa senang berinternet ria.
Sampailah saatnya Nishimura pulang ke Jepang, dengan jeli ia membaca penyakit yang menimpa warga Jepang pada umumnya.
Budaya Jepang tidak banyak beda dengan Indonesia.
“Budaya malu-malu dan munafik,” katanya datar. Enggan mengutarakan yang sebenarnya. Enggan mencaci maki di hadapan yang bersangkutan. Ada, kesopanan, ada etika dan jembatan tata karma yang harus dijaga; di dalam keluarga, maupun di masyarakat, baik masyarakat luas maupun masyarakat kantor.
Tetapi, tanpa berkata jujur dan menjadi diri sendiri, warga masyarakat bisa menjadi warga yang stress dan depresi. Jika sudah demikian orang akan lebih suka clubbing, mengkonsumsi zat-zat adiktif dan atau mengumbar libido. Sehingga komplitlah patologi social meracuni warga negera sebagai individu.
Anggapan demikian kemudian mendorong lelaki ini memutuskan membangun web site mainan. Website iseng yang diharapkan dikunjungi orang, siapa saja. Ia beri nama websitenya nichanneru alias channel 2.
Websites ini berbahasa Jepang. Belakangan baru dilengkapi juga bahasa Inggris.
Kekuatan utamanya pada penyajian berita, berita resmi yang kemudian dibahas sesuka hati oleh tiap-tiap warga masyarakat menurut versi warga masyarakat secara semaunya.
Warga masyarakat tanpa perlu mengungkap identitasnya bisa memaki Pemerintah, memaki Kerajaan, memaki lingkungan, kantornya, maupun istrinya sendiri. Kata-kata sopan maupun tidak sopan absah di dalam websites ini.
Propaganda dan berbagai ajakan yang tidak pada tempatnya juga silahkan dipajang disini. Semuanya gratis sepanjang itu ditulis sendiri oleh warga masyarakat.
“Tadinya saya coba-coba, ternyata laris,” kata Nishimura. “Tapi website ini tidak memberi arti apa-apa, orang Cuma bisa menulis di sini, untuk memperbaiki keadaan tetap saja seseorang harus melakukan sesuatu tidak Cuma menulis, “kata Nishimura.
Ngomong saja atau menulis saja dengan seenaknya mengeluarkan isi hati yang jujur memang tidak cukup tanpa, melakukan sesuatu. Tetapi bicara jujur dan apa adanya dibutuhkan setiap orang. Tidak Cuma warga masyarakat sipil yang sehari-hari bekerja dikejar waktu dan aturan juga para wartawan dan politisi dating dan berkunjung ke tempat ini.
Membentuk opini, berdialog bahkan mengungkapkan orientasi seksual yang menyimpang sekali pun Cuma tersedia di websites ini. Di alam nyata, pada masyarakat sosial di Jepang, kehidupan homoseksual, misalnya sangat sulit diterima. Tetapi di channel2, silahkan saja; cari komunitas Anda, saling bersurat tetapi masih diragukan apakah masing-masing juga berani bertemu dan bertatap muka.
“Saya yakin tidak “ ujar Nishimura, sebab menurut dia warga Jepang pada umumnya warga yang santun yang tidak berani berhadapan muka untuk sesuatu yang tidak etis. “Harga diri adalah segalanya bagi kami. Tetapi harga diri menggiring kami seringkali tidak jujur terutama pada diri sendiri,” tutur Nishimura.
Website Nishimura, katanya hendak memberikan warna tentang kejujuran tetapi tidak ingin mengubah kultur positivisme yang dimiliki oleh mayoritas warga Jepang. Dengan demikian websites Nishimura kian laku didonasi para sponsor komersial. Berebutan, produsen peralatan teknologi dan produsen barang konsumen beriklan di Channel 2, (http://www.2ch.net). Ada Sonny yang berusaha kuat menguasai Channel 2, tetapi Channel 2 yangs etiap harinya dikonsumsi 5,4 juta orang juga diminati para produsen dari China dan Korea. Bahkan Yahoo, provider komersial dunia milik orang Amerika, merasa keberadaannya di Jepang cukup terancam dengan kehadiran Channel 2, ini. Maklum Channel2 sejak dua tahun terakhir ini selalu masuk di dalam 40 besar NetRating, semacan ajang 40 besar website favorites yang digemari publik.
Channel ini konon menjadi barometer Asia, pasalnya hanya karena ia menjual kejujuran dan siapa tahu dengan membaca kejujuran produsen adikuasa dapat menjegal dominasi Jepang sebagai salah satu macan ekonomi dunia yang menguasai kawasan Asia. Nishimura, tersenyum saja. “Saya sudah bosan mengurus websites ini,” katanya jujur dan ia ingin sesuatu yang lain lagi. Barangkali menjual sesuatu yang lebih dari sekedar kejujuran. (r.yuniarsih.w)
Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.
Not A Member? Register for Free!





